NdmSCJofn5qcY44UfTlhclVnBp3RL3BTYoA8yFLJ
Bookmark

Habitat dan Siklus Hidup Walang Sangit yang Wajib Kamu Ketahui

Habitat dan Siklus Hidup Walang Sangit yang Wajib Kamu Ketahui
Sumber Foto: Nur Diana (canva.com)

Habitat dan siklus hidup walang sangit - Walang sangit adalah serangga penghisap dari famili Miridae yang menjadi salah satu hama utama dalam budidaya padi di Indonesia. Nama ilmiah walang sangit adalah Leptocorisa Oratius, menjadikannya salahsatu hama yang berbahaya karena dapat menyerang tanaman padi di berbagai fase pertumbuhannya.

Serangga ini dapat mulai dari tanaman bibit hingga tanaman dewasa yang siap panen. Oleh karena itu, pemahaman mengenai habitat dan daur hidup hama serangga satu ini sangat penting dalam upaya pengendalian hama pada pertanian padi. Pada artikel ini, penulis akan membahas mengenai habitat dan daur hidup hama walang sangit.

Deskripsi Hama Walang Sangit

Walang sangit memiliki tubuh yang ramping dengan panjang sekitar 8-9 mm. Serangga dengan nama ilmiah leptocorisa oratius ini mempunyai warna tubuh hama ini umumnya hijau kecoklatan, dengan bagian kepala dan kaki berwarna hitam. 

Serangga ini juga memiliki sayap dengan corak berwarna krem pada bagian atasnya. Walang sangit termasuk dalam kelompok serangga penghisap yang hidup di dalam air. Jenis walang sangit bisa kamu temukan dalam dua warna yaitu walang sangit cokelat dan walang sangit hijau.

Dari sudut pandang taksonomi, walang sangit (Leptocorisa acuta Thunberg) dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

  • Kingdom: Animalia (Hewan)
  • Filum: Arthropoda (Artropoda)
  • Kelas: Insecta (Serangga)
  • Ordo: Hemiptera (Hemiptera)
  • Famili: Coreidae (Coreidae)
  • Subfamili: Alynidae (Alynidae)
  • Genus: Leptocorisa (Leptocorisa)
  • Spesies: Leptocorisa acuta Thunberg

Habitat Walang Sangit

Walang sangit adalah salah satu jenis hama yang paling banyak menyerang tanaman padi di Indonesia. Untuk dapat membasminya, pertama-tama kita perlu memahami habitat dan daur hidup dari hama ini.

Lalu, di mana habitat walang sangit?, secara umum hama ini biasanya hidup dan berkembang biak di daerah-daerah yang lembab dan hangat, seperti sawah yang tidak terlalu bersih atau semak-semak yang tumbuh di sekitar area pertanian. Selain itu, hama ini juga dapat ditemukan di area persawahan yang sudah ditanami padi atau sedang dalam tahap penanaman.

Serangga ini sangat menyukai lingkungan yang lembap dan basah, seperti tanah yang tergenang air atau daerah-daerah yang terkena banjir. Selain itu, ia juga sering terdapat di tanah yang kaya akan nutrisi dan memiliki sumber air yang cukup.

Selain faktor lingkungan, habitat walang sangit juga bisa hidup dan berkembang biak dengan baik di lingkungan yang bersih. Oleh karena itu, area-area yang terdapat banyak gulma atau tumbuhan liar, seperti semak belukar, menjadi tempat yang sangat ideal bagi hama serangga ini untuk berkembang biak.

Secara umum, habitat walang sangit terdiri dari area-area yang memiliki tanah yang lembap, lingkungan yang kaya akan nutrisi, dan minim gangguan seperti tumbuhan liar atau gulma. Oleh karena itu, untuk mencegah menyebar dan merusak pertanian padi, petani harus menjaga kebersihan dan kelembapan area persawahan serta melakukan pengendalian hama secara efektif dengan memanfaatkan berbagai teknik seperti penggunaan pestisida, pembersihan lahan, dan penggunaan jaring penghalang.

Siklus Hidup Walang Sangit

Habitat dan Siklus Hidup Walang Sangit yang Wajib Kamu Ketahui
Penampakan telur walang sangit, Sumber foto: MiaZeus (canva.com)

Walang sangit, juga dikenal sebagai lalat hijau (Lucilia cuprina), adalah serangga yang tergolong dalam ordo Diptera dan famili Calliphoridae. Siklus hidup walang sangit melibatkan perkembangan dari telur menjadi larva, pupa, dan akhirnya menjadi dewasa.

Fase Telur

Siklus hidup walang sangit dimulai ketika betina dewasa bertelur. Betina dapat menghasilkan sekitar 200 hingga 300 telur sekaligus. Telur ini diletakkan pada sumber makanan yang mengandung bahan organik yang membusuk, seperti bangkai hewan atau limbah organik.

Betina dewasa Walang sangit memilih tempat yang cocok untuk menempatkan telur-telurnya. Mereka biasanya mencari bahan organik yang membusuk, seperti bangkai hewan atau limbah organik. Tempat ini menyediakan sumber makanan yang diperlukan oleh larva ketika mereka menetas.

Setelah telur ditempatkan dilokasi yang cocok, maka masa inkubasi dimulai. Telur Walang sangit cenderung menetas dalam waktu sekitar 24 sampai 48 jam, meskipun waktu ini juga tergantung pada suhu dan kondisi lingkungan.

Fase Larva

Setelah sekitar 24 jam, telur walang sangit menetas menjadi larva. Larva walang sangit memiliki bentuk yang panjang dan silinder, dengan segmen tubuh yang jelas. Mereka memiliki mulut penggigit yang kuat yang digunakan untuk mengunyah dan mencerna bahan organik yang mereka konsumsi.

Larva walang sangit biasanya melewati tiga tahap pertumbuhan (instar). Selama setiap instar, larva meningkatkan ukurannya dan makan lebih banyak. Mereka juga sering berganti kulit saat mereka tumbuh. Larva biasanya berwarna putih atau krem ​​pada tahap awal, namun berubah menjadi hijau atau biru saat mereka tumbuh.

Fase Pupa

Setelah larva mencapai tahap pertumbuhan terakhirnya, mereka berhenti makan dan mencari tempat yang cocok untuk berubah menjadi pupa. Pupa walang sangit biasanya dapat ditemukan di bawah tanah atau di tempat yang terlindungi seperti lubang di kayu atau tumpukan sampah.

Selama periode pupa, walang sangit mengubah diri mereka menjadi bentuk dewasa mereka dengan proses yang disebut metamorfosis. Di dalam pupa, organ dan struktur tubuh yang baru terbentuk dan sedang berkembang. Pada tahap ini, mereka berada dalam kondisi tidur atau tidak aktif.

Fase Dewasa

Setelah beberapa hari atau minggu tergantung pada kondisi lingkungan, pupa walang sangit berkembang menjadi dewasa. Dewasa walang sangit memiliki sayap yang transparan dan hijau metalik atau biru metalik, yang memberi mereka nama populer "lalat hijau".

Dalam fase dewasa, walang sangit jantan dan betina mencari makanan seperti nektar bunga atau sumber makanan lain yang mengandung gula. Betina juga akan mencari tempat untuk bertelur dan siklus hidup walang sangit akan berulang kembali.

Baca Juga: Penyakit Pada Tanaman Buah Naga dan Pengendaliannya

Periode Berkembang Biak

Periode berkembang biak hama walang sangit dapat berlangsung sepanjang tahun tergantung pada kondisi lingkungan. Namun, puncak aktivitas berkembang biak biasanya terjadi pada musim hujan atau saat musim penghujan datang.

Pada saat musim hujan, suhu dan kelembaban di sekitar area persawahan menjadi lebih tinggi, yang memungkinkan hama walang sangit untuk berkembang biak dengan lebih cepat. Hama walang sangit betina dapat meletakkan hingga 200 butir telur dalam satu kali reproduksi, dan waktu yang diperlukan untuk menetas biasanya sekitar 4-8 hari.

Setelah menetas, telur akan berubah menjadi nimfa, dan selama masa nimfa, hama walang sangit akan mengalami beberapa kali pergantian kulit sebelum akhirnya mencapai tahap dewasa. Pada tahap dewasa, hama walang sangit betina akan kembali meletakkan telur dan siklus hidup akan berlanjut.

Ketika populasi hama walang sangit meningkat, maka kerusakan pada pertanian padi juga akan semakin besar. Hama walang sangit dapat memakan bagian tanaman padi yang berada di dekat permukaan air, sehingga pertumbuhan tanaman menjadi terhambat dan berdampak pada hasil panen yang rendah.

Dampak Serangan Hama Walang Sangit pada Tanaman Padi

Hama walang sangit merupakan salah satu hama penting pada tanaman padi di Indonesia. Hama serangga ini dapat menyebabkan kerugian yang cukup besar pada produksi padi. Dampak serangannya pada tanaman padi sangat beragam dan dapat mempengaruhi pertumbuhan, hasil panen, dan kualitas beras.

Pada tahap awal serangan, walang sangit dapat menghisap cairan dari daun dan batang tanaman padi. Hal ini dapat mengganggu pertumbuhan tanaman dan membuat daun menjadi menguning serta melengkung. Serangan yang parah dapat menyebabkan daun menjadi keriting, kering, dan mati. Serangan yang terjadi pada fase vegetatif tanaman dapat mengurangi luas daun dan fotosintesis tanaman, sehingga mengurangi produksi karbohidrat dan mempengaruhi pertumbuhan batang dan akar.

Selain itu, ia juga dapat mempengaruhi hasil panen dan kualitas beras. Serangan yang terjadi pada fase pembungaan dan pembuahan dapat mengurangi produksi bulir dan berat gabah kering. Serangan yang terjadi pada fase akhir masa tanam dapat menyebabkan bulir padi pecah dan berjatuhan sebelum masa panen. Serangan yang terjadi pada fase pengisian bulir dapat menyebabkan bulir padi menjadi tidak utuh dan tidak berisi, sehingga kualitas beras yang dihasilkan menjadi rendah.

Selain dampak pada produksi dan kualitas beras, serangan hama ini juga dapat mempengaruhi kerja petani dan ekonomi daerah. Serangan yang parah dapat menyebabkan petani harus mengeluarkan biaya lebih tinggi untuk pengendalian hama dan mengurangi pendapatan dari hasil panen. Serangan yang luas dan terus-menerus dapat mempengaruhi produktivitas dan ekonomi daerah.

Pentingnya Pengendalian Hama Walang Sangit

Pengendalian hama walang sangit sangat penting untuk menjaga keberlangsungan pertanian padi. Hama ini dapat menyebabkan kerusakan yang cukup besar pada tanaman padi dan menyebabkan hasil panen menjadi rendah. Selain itu, populasinya yang tidak terkendali juga dapat menyebar ke lahan pertanian lainnya dan mengakibatkan kerusakan pada pertanian yang lebih luas.

Selain merusak tanaman padi, hama ini juga dapat menjadi pusat sumber penyakit bagi tanaman padi. Beberapa jenis virus dan penyakit tanaman padi dapat disebarkan melalui gigitan hama ini, sehingga pengendalian hama ini tidak hanya penting untuk menjaga hasil panen, tetapi juga untuk mencegah penyebaran penyakit pada tanaman padi.

Pengendaliannya dapat dilakukan dengan berbagai teknik seperti penggunaan pestisida, penggunaan jaring penghalang, dan pembersihan lahan. Namun, penggunaan pestisida secara berlebihan juga dapat berdampak negatif pada lingkungan dan kesehatan manusia. Oleh karena itu, pengendalian hama walang sangit sebaiknya dilakukan secara terpadu dengan memperhatikan aspek lingkungan dan kesehatan.

Salah satu teknik pengendalian yang dapat dilakukan secara terpadu adalah dengan mengadopsi metode pengendalian hayati. Metode ini melibatkan penggunaan predator alami seperti kepik atau belalang hijau untuk mengendalikan populasi hama tersebut. Penggunaan metode pengendalian hayati tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga efektif dalam mengendalikan populasinya.

Dalam menjaga keberlangsungan pertanian padi, pengendalian hama ini merupakan hal yang tidak boleh diabaikan. Dengan menerapkan teknik pengendalian yang tepat, petani dapat mengurangi kerusakan pada tanaman padi dan meningkatkan hasil panen, serta menjaga keberlangsungan pertanian padi di masa yang akan datang.

Kesimpulan

Hama walang sangit merupakan hama utama pada pertanian padi di Indonesia. Hama ini dapat menyerang tanaman padi pada berbagai fase pertumbuhannya dan dapat mengakibatkan kerusakan yang cukup parah pada tanaman padi. Oleh karena itu, pemahaman mengenai habitat dan daur hidupnya sangat penting dalam upaya pengendalian hama pada pertanian padi. Demikian artikel tentang habitat dan siklus hidup walang sangit, semoga bermanfaat.

Posting Komentar

Posting Komentar